Program Studi Pendidikan Sistem dan Teknologi Informasi (PSTI) mengadakan kuliah umum dengan tema besar “Bridging Academic Excellence and Professional Journey: From Quality Writing to Future Teacher-Engineer” pada Kamis, 11 September 2025. Acara ini berlangsung di ruang Smart Class Room dan dihadiri oleh 168 peserta kuliah umum pada sesi pertama dan 128 peserta pada sesi kedua dengan narasumber Assoc. Prof. Dr. Mohamed Nor Azhari Azman.
Pada sesi pertama, Assoc. Prof. Dr. Mohamed Nor Azhari Azman memaparkan materi bertajuk “AI-Assisted Academic Writing: A Step-by-Step Guide to Impactful Publications”. Beliau menekankan bahwa kecerdasan buatan (AI) harus dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti pemikiran manusia. Penggunaan AI yang berlebihan dapat berisiko merusak fungsi otak dan memicu kemalasan. Oleh karena itu, penting untuk selalu menyiapkan hasil pemikiran orisinal sebagai pembanding agar kemampuan berpikir kritis tetap terasah. Dalam konteks penulisan ilmiah, AI, khususnya Generative AI seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini, dapat dimanfaatkan untuk berbagai tugas seperti menghasilkan teks, gambar, atau kode. Namun, ada etika yang harus dipatuhi, terutama terkait kebijakan penerbitan jurnal internasional. Mayoritas penerbit besar, seperti Elsevier dan Springer Nature, mengizinkan penggunaan AI tetapi dengan syarat ketat. AI hanya boleh digunakan untuk language polishing, penyusunan ide, dan pencarian literatur, tidak boleh dicantumkan sebagai penulis, dan penulis tetap bertanggung jawab penuh atas keaslian konten. Dr. Mohamed Nor Azhari juga merekomendasikan berbagai alat bantu AI untuk riset dan penulisan, antara lain:
- Elicit: Membantu merumuskan ide penelitian dan menemukan celah riset.
- Scopus AI: Menyediakan sumber sitasi dari database Scopus.
- Grammarly dan QuillBot: Untuk perbaikan tata bahasa dan parafrase teks.
- DeepL: Sebagai penerjemah akademik yang akurat

Sesi kedua membahas topik “From Quality Student to Professional Teacher-Engineer: A Transformative Journey”. Dr. Mohamed Nor Azhari menyoroti bahwa di era otomatisasi, generasi muda harus mampu membaca peluang karir, terutama di tingkat global. Banyak negara maju, seperti Jepang, Jerman, dan Australia, mengalami kekurangan tenaga kerja, yang membuka banyak kesempatan bagi talenta dari luar. Untuk menjadi profesional yang sukses, fondasi harus dibangun sejak dini. Dr. Mohamed menekankan pentingnya:
- Pemikiran Kritis dan Kreativitas: Mahasiswa didorong untuk menghasilkan produk inovatif, seperti skripsi berbasis produk, yang dapat menjadi portofolio unggulan saat melamar kerja.
- Networking: Membangun jaringan dengan dosen dan senior dapat meningkatkan pemahaman dan membuka wawasan.
- Keterampilan Komunikasi: Menguasai bahasa internasional dan komunikasi non-verbal sangat krusial.
Beliau juga memaparkan kerangka perencanaan karir jangka panjang, membaginya ke dalam beberapa fase usia:
- Usia 20-30 tahun: Fase untuk membangun fondasi dan menyerap ilmu.
- Usia 30-40 tahun: Fase untuk mengambil peran kepemimpinan.
- Usia 40-50 tahun: Fase untuk mengembangkan bisnis dan menjadi mentor.
- Usia 50-60 tahun: Fase transisi ke peran penasihat atau pengajar.
Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan wawasan komprehensif kepada mahasiswa PSTI tentang bagaimana memanfaatkan teknologi secara etis dalam akademik dan membangun karakter serta keterampilan yang relevan untuk menghadapi tantangan di dunia profesional.



