Purwakarta, Suasana Perpustakaan Lama SD Laboratorium UPI Kampus Purwakarta berubah menjadi arena penuh antusiasme saat mahasiswa Program Penguatan Profesional Kependidikan (P3K) UPI Purwakarta menyelenggarakan STEM Innovation Challenge pada Selasa, 28 Oktober 2025. Melalui kegiatan pengabdian bertema “Paper Hold Challenge”. Para siswa diajak membuat struktur penahan beban menggunakan kertas, sehingga mereka dapat belajar konsep sains dan rekayasa sambil melatih kreativitas, berpikir kritis, serta kemampuan memecahkan masalah.
Workshop ini menjadi bagian dari praktik mengajar mahasiswa P3K Prodi PGSD UPI Purwakarta yang menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aplikatif dan menyenangkan. Selain memperkenalkan pendekatan STEM, kegiatan ini mendukung tujuan pembelajaran abad 21 yang menekankan kolaborasi dan kreativitas. Langkah ini sejalan dengan SDG 4 yakni Pendidikan Berkualitas, yang memberikan akses pembelajaran inovatif yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Ketua Pelaksana Najwa Fakhira Azzahra menuturkan “Kami ingin menghadirkan pengalaman bahwa belajar STEM bisa seru dan tidak menakutkan. Lewat “Paper Hold Challenge”, kami berharap kreativitas dan daya pikir kritis adik-adik dapat tumbuh sejak dini. Mungkin saja, dari kegiatan sederhana ini akan lahir calon insinyur hebat di masa depan,” ujarnya.
Momen paling menegangkan hadir pada sesi pengujian struktur. Satu per satu buku tebal ditumpangkan di atas bangunan buatan siswa. Beberapa struktur ambruk setelah dua buku, sementara yang lain mampu menopang hingga belasan buku, memicu sorakan takjub seluruh peserta. Kelompok dengan struktur terkuat akhirnya dinyatakan sebagai pemenang.
Guru kelas pun memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini. “Kegiatan STEM yang dilakukan mahasiswa P3K di kelas 5 mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah. Pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika siswa bisa menghubungkannya dengan kegiatan nyata,” tutur Ibu Rina, Wali Kelas 5A.
Hal serupa disampaikan oleh Wali Kelas 5B. “Workshop ini sangat baik karena memberi pengalaman belajar yang menumbuhkan kemandirian dan ketekunan. Awalnya siswa kurang tertarik, tetapi setelah dijelaskan oleh mahasiswa P3K, mereka justru sangat bersemangat. Kegiatan ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi mereka,” ungkapnya.
Antusiasme peserta terlihat dari jajak pendapat setelah kegiatan. Sebagian besar siswa menyatakan bahwa mereka ingin mencoba lebih banyak aktivitas STEM, sementara yang lain menyebut tantangan ini menyenangkan dan membuat mereka lebih tertarik mempelajari sains. Kegiatan ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga media pembelajaran berbasis proyek yang menanamkan rasa ingin tahu dan ketangguhan. Koresponden PGSD/Tiara.




